Rapuh seperti Dandelion

Standard

Rapuh Seperti Dandelion

Aku begitu menganggumimu, bahkan aku hanya bisa melihatmu.Ketika helaian mahkotaku mulai lelah, aku pun masih terus menatapmu, melihat ke arah langit yang menampakan sosok dirimu yang putih, lembut dan dingin.

Kau terlihat nyata, namun sangat jauh.Kau selalu berada di atasku tanpa mampu ku gapai.Bodoh bukan? Aku mendambakan kau yang sangat jauh.Bahkan aku tidak terusik oleh kehadiran mereka, hewan-hewan bersayap yang selalu berada di sekitarku.Aku tidak menyukai mereka, aku hanya menyukaimu, haruskah ku ulangi? Aku hanya menyukaimu!

Apakah tidak bosan? Tentu saja tidak.Bisa melihatmu merupakan kebahagiaan untuk ku.

Apakah tidak lelah? Entahlah, aku tidak ingin mengakhirinya.

Namun apa benar kau tidak pernah melihatku? Walau hanya sekali pernahkah kau menghawairkanku? Aku yang selalu berada di bawahmu, dalam kerapuhan yang di selimuti rasa ingin memiliki.Aku akan bertahan, entah sampai kapan.

Aku menghadapi mereka.Matahari, angin, dan hujan.Mereka begitu kuat, berbeda denganku yang hanya mengandalkan kelopak yang  rapuh.Namun aku ingin terus bertahan, bertahan sampai kau bisa melihatku, menyadari kehadiranku dan mengatahui isi hatiku.

Dalam penantian panjangku aku akan terus menerbangkan kelopak ku untuk menggapai dirimu.Dan di saat kelopakku telah habis maka di sana lah aku berhenti.

“Setinggi apapun dandelion menerbangkan kelopakknya, dia tak akan pernah bisa menyentuh awan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s